Mari meninggalkan Indonesia

Harapan apa lagi yang tersisa pada republik ini ??? Otomatis pertanyaan yang sama juga tertuju pada Sulawesi Barat sebagai bagian dari Indonesia. Meskipun, dalam obrolan santai dengan kawan-kawan media, terungkap pertanyaan sekaligus pernyataan bahwa Keppres 80 Tahun 2003 beserta aturan-aturan hukum lainnya hanya berlaku di Indonesia tapi tidak di Sulawesi Barat. Karena itu tidaklah mengherankan jika banyak proyek tidak ditender, justru yang membuat heran adalah jika ada proyek yang benar-benar ditender bukan sekadar tender-tenderan. Tapi, ah… sudahlah… tidak perlu kita membincang tentang proyek, orang bilang proyek itu adalah lingkaran setan. Semoga saja setan tidak tersinggung lantas mengajak untuk berpolemik. Mengapa komunitasnya masih saja dikambinghitamkan alias menjadi terdakwa, padahal mereka sudah lama menganggur bahkan sudah mengajukan permohonan pensiun dini pada Tuhan. Bagaimana mungkin mereka masih akan semangat menggoda makhluk yang kadar kesetanannya lebih setan daripada setan asli. Ih… kenapa kita menjadi bicara tentang setan, kita tinggalkan perbincangan tentang setan, sebab bicara tentang setan sama saja dengan bicara tentang diri sendiri.
Mari kita melanjutkan pertanyaan sekaligus pernyataan. Buat apa kita ber-Sulawesi Barat sekaligus ber-Indonesia, kalau hanya membuat orang susah kian bertambah payah dan orang senang terus mengakumulasi kemenangan??? Jika pertanyaan ini diurai lebih rinci lagi, maka akan diteruskan menjadi : buat apa kita, ber-Nahdlatul Ulama, ber-Muhammadiyah, ber-Ikatan Cendekiawan Muslim, ber-Lembaga Swadaya Masyarakat, ber-wartawan, ber-legislatif, ber-eksekutif, ber-partai politik, ber-polisi, ber-kejaksaan, ber-pengadilan, ber-Komite Nasional Pemuda Indonesia, ber-himpunan mahasiswa, ber-ber-dan ber yang lain, bahkan mungkin juga ber-agama. Sekalipun secara personal masih ada yang bisa dijadikan tambatan harapan, tetapi secara kelembagaan, saya tidak akan sinting untuk mengatakan kerbau putih “jika hanya beberapa lembar bulu putih di kerbau hitam”.
Jika mereka semua hanya merasa besar sendiri, selanjutnya hanya sibuk dengan diri sendiri, tetapi menjadi kerdil dan lunglai tak berdaya jika dititipi harapan untuk menjadi salah satu pilar penyangga harapan hidup kaum mustad’afin dan persoalan-persoalan mendasar kaumnya masing-masing???
Belum sempat kita mendiskusikan semua itu, eh…. ada lagi yang sibuk ramai-ramai mempertontonkan “dengkul” menyoal dan menggugat nasionalisme ketika (menurut media) ada Warga Negara Indonesia yang menjadi anggota Askar Wataniyah Malaysia. Bahkan spanduk-spanduk Ganyang Malaysia kembali menghiasi layar televisi. Hari geneeh…. Bicara nasionalisme, apalagi nasionalisme Indonesia, kuno…… sudah gak jaman gitu loh… Bagaimana mungkin kita akan dijejali wacana nasionalisme, ketika republik ini sedang giat-giatnya bicara bukan dengan mulut melainkan dengan sepatu laras, pentungan, excavator dan buldozer. Bagaimana mungkin kita terus dipaksa untuk melatih kemampuan bertahan hidup di republik yang kalau mau jujur harus mengakui bahwa sesungguhnya mereka melarang rakyat hidup di tanah moyangnya dengan alasan pembangunan, keindahan, tata kota, dan lain sebagainya yang lahir dari kecakapan memainkan dan membuat pemaknaan baru pada beberapa kosa kata warisan orde baru, misalnya penggusuran diganti penertiban, digebuk diganti dengan diamankan, dan seterus dan seterusnya.
Boleh jadi, apa yang dilakukan sebagian Warga Negara Indonesia yang memilih menjadi anggota Askar Wataniyah Malaysia lebih elegan daripada kita yang terus bertahan dalam kubangan kemunafikan? Boleh jadi mereka memilih pindah kewarganegaraan karena tak sanggup lagi dibebani tanggung jawab apa-apa tentang Indonesia? Seperti seorang bayi yang baru lahir langsung meninggal sebab (katanya) tak akan sanggup bertanggung jawab atas tugas kekhalifaanya di dunia. Boleh jadi, dalam diri mereka tak tersedia lagi tempat untuk terus-menerus dilumuri kekotoran menjijikkan dan tak pernah berhenti direproduksi penguasa republik ini. Boleh jadi, bagi mereka itu pilihan lebih mulia daripada bunuh diri, karena untuk bisa berharap melanjutkan kehidupan di republik ini harus dengan gali lobang sekalipun tak bisa menutup? Atau boleh jadi mereka telah kehabisan air mata sehingga teramat malu untuk bertahan di kolong langit Indonesia, satu-satunya negara yang –entah sadar atau tidak- dengan kedangkalan pemahaman teologi bencana serta telah terbiasa menginvasi wilayah-wilayah yang sebenarnya bukan wilayahnya- DPRnya lancang menyalahkan Tuhan dalam kasus Lumpur Lapindo. Ah…. Indonesia… Indonesia….
Susahnya karena orang-orang yang merasa cerdas di republik ini, masih terus digerogoti sakit ingatan/jiwa nasional. Mereka selalu sibuk membicarakan akibat tanpa punya minat untuk mengurai sebab. Mereka hanya bisa berenang di permukaan saja, tanpa kemampuan untuk menyelami kedalamannya. Makanya, ketika ada fenomena yang muncul mereka main keroyokan memberi komentar. Yah, begitulah yang terjadi sebab mereka tak punya kemampuan dan keinginan memadai untuk menangkap dan mencermati gejala.
Tapi, sudahlah…. jika umpatan-umpatan ini diteruskan nanti kita menjadi cengeng dan sentimentil. Mungkin bagi mereka yang telah menjadi anggota Askar Wataniah sudah tidak akan dituntut pertanggungjawaban apa-apa lagi tentang Indonesia. Sebagaimana kisah, seorang haji dari Indonesia yang tertahan di depan pintu surga hanya karena ia seorang haji dari Indonesia. Sang hajipun protes dengan membeberkan sederet kesalehan ritual individunya. Dengan santai penjaga surga memberi alasan, bahwa anda ditahan karena anda adalah seorang haji dari Indonesia, dan anda sama sekali tidak melakukan kewajiban-kewajiban keIndonesiaan anda. Silahkan sidang pembaca menanggapi kisah ini dengan tafsir imajiner, tak perlu ragu, sebab tim verifikasi kisah ini belum terbentuk.
Sebagai orang yang terus dirampas hak hidupnya, tak perlulah kita ikut pusingi mereka yang telah masuk dalam Askar Wataniah, cukup kita belajar pada mereka dengan segenap kearifan yang tersisa. Persoalannya sekarang adalah, kita yang masih berstatus Warga Negara Indonesia. Haruskah kita berhenti ketika keluhan tak lagi mendorong perenungan, ketika kritikan tak menciptakan kesadaran sekecil zarrahpun, ketika letupan-letupan perlawanan di jalanan hanya dimaknai sebagai sebuah hal wajar dalam iklim demokrasi. Sekali lagi haruskah kita berhenti??? Sekalipun kita tidak akan dianggap apa-apa, sangat jauh dari intelek, apalagi muslim terlebih lagi cendekiawan. “Kita” yang saya maksudkan adalah, kita, yang selalu dihinakan dan diinjak-injak nilai-nilai kemanusiaannya oleh mereka yang merasa manusia, merasa kaum intelektual, merasa seakan-akan republik ini lahir dari rahim istrinya.
Kalau kita memilih berhenti, maka yang paling mungkin untuk dilakukan supaya tidak dituntut pertanggungan jawab apa-apa atas Indonesia adalah kita harus meninggalkan Indonesia. Tapi jika kita memilih bertahan, maka kita harus meninggalkan Ke-Indonesia-an seperti yang dianut jamak orang. Bagaimanapun kita turut melakukan kesalahan dengan membiarkan semua itu menimpa diri kita tanpa sedikitpun perlawanan. Karena itu, jangan kita biarkan api perlawanan itu padam, menganggung-agungkan lantas menyembah-nyembah debunya. Mari terus bersama kita kipas-kipas, sehingga bara yang tersisa menjadi kobaran api yang siap menjilati siapa saja yang coba memadamkan.

Satuan Sosial Baru

Tak masuk golongan intelektual rasanya, jika belum berbicara tentang demokrasi, dan turunannya yang telah mereka sepakati sendiri untuk dijadikan ikon keintelektualan dengan tafsir serba mono. Demokrasi, kata ini lagi-lagi, dikeramatkan, saat wewangian kemenyan pemilu/pilkada mulai menyengat. Karena itu, bergerombol orang datang membawa persembahan lantas menyembah-nyembah. Kemudian tebar pesona dengan menyebar gambar bak sinterklas menabur popularitas dengan gaya -meminjam bahasa Tukul- katro, ndeso. Terlepas dari perdebatan, apakah memang “demokrasi” yang ideal untuk dijadikan metode sebuah bangsa dalam mencatat sejarah hari esoknya yang cerah, atau karena kata itu cukup sakti untuk mendatangkan rejeki (materi) bagi penyembahnya. Yang pasti kewenangan untuk menilai ideal tidaknya demokrasi dimonopoli oleh mereka yang selama ini merasa intelek, atau yang telah menghabiskan sebagian umurnya untuk berjibaku dengan kata itu lantas menjadikannya sebagai periuk untuk sesuap nasi dan setumpuk rekening serta seonggok berlian untuk sang isteri.
Akhirnya demokrasi, jika memang makhluk demokrasi itu ada, dipahami hanya dalam urusan coblos-mencoblos, demokrasi hanya bicara tentang rakyat sebagai pemilih. Bukan rakyat sebagai kesatuan masyarakat yang menggajinya beserta kelangsungan hidupnya dalam kompleksitas permasalahan yang masih saja terus direproduksi oleh penguasa dan membiarkan rakyat menanggung sendiri masalahnya. Malang nian nasib rakyat di Sulawesi Barat sekaligus di republik ini, jika hanya sebatas itu. Sekaligus, tega nian mereka yang merasa intelektual dan memiliki hak untuk mengajari terlebih lagi mendidik rakyat untuk berdemokrasi. Tapi ini tentu demokrasi versi Indonesia.
Kalau versi Amerika Serikat lain lagi, lewat personifikasi si-koboi Bush yunior memporak-porandakan negara mana saja yang dianggap anti demokrasi, lalu mempertontonkan pesta kembang api termegah di negeri-negeri Onta. Parahnya, atas nama demokrasi Bush yunior tetap menjadi pemegang sertifikat kebenaran di mata para penghuni peradaban global. Begitupun juga dengan Sovyet dahulu, lewat tokoh-tokohnya yang mencoba tampil sebagai perintis, peretas jalan, menuju demokrasi malah terdepak lalu perlahan-lahan tenggelam bersama pilihan dan keyakinannya. Gorbachev misalnya, menguasai hampir semua head line surat kabar dunia ketika berproses mengolah demokrasi di Sovyet. Yunani yang konon katanya demokrasi lahir dari rahimnya, harus memaksa seorang Socrates untuk memilih meminum racun karena mempertahankan nilai-nilai kebenaran yang dianutnya.
Gambaran di atas memang sifatnya kasuistik, dan demokrasi tak bisa dipersonifikasikan ke dalam diri mereka, sehingga kurang bijak menyalahkan demokrasi karena prilaku orang-orang yang pernah mengatasnamakan. Tapi bagaimanapun semua itu semakin meluruhkan atau mengabstrakkan makhluk bernama demokrasi.
Tidak sedikit orang dengan bangganya mengkonsumsi bacaan-bacaan tentang demokrasi, mempelajari teori-teorinya lalu menganutnya tanpa reserve. Kita tabu untuk menilai kelakukan mereka yang mengklaim diri sebagai pihak yang paling demokratis, dari sinilah orang banyak melihat demokrasi. Demokrasi, demokrasi, Cihuy…… Cape ……. Deh….
Sebenarnya saya tidak terlalu berminat untuk ikut-ikut latah membincang demokrasi, andaipun makhluk bernama demokrasi itu benar-benar ada, maka ia terlalu kerdil untuk diagungkan. Toh ia hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia, sekali lagi kalau toh memang ada, jangan-jangan hanya ilusi. Karena itu, saya tidak akan tergesa-gesa atau lancang untuk menyatakan bahwa saya anti demokrasi. Sebab bagaimana mungkin kita akan anti pada sesuatu yang belum jelas eksistensinya. Yang pasti, untuk sementara demokrasi hanya membawa keuntungan kepada para pemujanya. Tapi sama sekali tidak bagi rakyat.
Kita sama sekali belum punya kemampuan untuk tahu dan paham bagaimana menakar demokrasi, seberapa dosis yang sesuai dengan kemampuan ketahanan tubuh kita sehingga kita tidak over dosis yang berujung pada “mabuk demokrasi” bahkan dibunuh demokrasi.
*****
Pada siapa lagi harapan rakyat akan ditambatkan??? Tak ada lagi yang pantas. Sebab seluruh pernak-pernik demokrasi sedang dijangkiti penyakit, meminjam bahasa guru saya seorang Pendeta Katolik, “TTM” alias Tidak Tahu Malu. Merasa benar sendiri sehingga gila bicara, soal sikap apakah sesuai dengan perkataan atau tidak, itu bukan masalah. Tidak hanya partai politik, bahkan seluruh institusi di republik ini, kalau Sulawesi Barat tak perlu ditanya. Kalau kita berupaya untuk sedikit tahu dari yang banyak, jangan-jangan kita tertumbuk pada kata yang pernah trend di kalangan anak gaul ketika kecele yakni malumakiq
Jika pernak-pernik demokrasi mengidap penyakit TTM dan selalu merasa benar sendiri dan menjadi gila bicara, mungkin masih sedikit dapat terpaksa kita terima. Sebab kata pomeo “banyak berjalan banyak dilihat, banyak bicara banyak berbohong”. Yang sulit untuk dimengerti jika institusi-institusi hukum, lembaga-lembaga sosial, lembaga kewartawanan, lembaga kemahasiswaan, lembaga swadaya masyakarat bahkan institusi keagamaan, juga mengidap penyakit yang sama. Sama sekali tak mampu menyangga harapan-harapan rakyat, berdiri tegap dalam persoalan-persoalan mendasar rakyat. Menghambakan diri pada hati nurani menjadi hal yang dianggap bodoh, karena cerdas ditakar dengan berapa banyak orang yang bisa dibodohi.
Jika demikian fenomena di republik ini, maka tak ada pilihan lain selain merancang jalan menuju satuan-satuan sosial baru. Satuan-satuan sosial yang tidak eksistensialis, tidak menjadikan eksistensi sebagai substansi. Ini memang sulit, disaat jamak orang mengharapkan penegasan diri dengan membutuhkan pengakuan orang lain. Ini memang tidak mudah, ketika harta dan kekuasaan bertahta di singgasananya. Tapi, kesanalah seharusnya kita menuju, satuan-satuan sosial yang tidak permisif terhadap takhayul-takhayul made in penguasa yang sebenarnya sengaja diciptakan untuk mempertahankan status quo dan membentengi diri dan keluarga dari segala kemungkinan penghisaban rakyat.
Sebuah satuan-satuan sosial yang meletakkan cinta kasih pada sesama atas nama kemanusiaan. Tidak hanya sebatas pada sesama manusia, tapi lebih universal, tentu pada alam beserta makhluk-makhluk lain yang menghuni bumi ini karena titahNya. Sebab pada hakikatnya yang disebut ummat adalah seluruh makhluk yang menggantungkan hidupnya hanya kepada Sang Khaliq. Sebuah derajat cinta yang mungkin sedikit lebih berkadar di atas agape. Bukan atas nama cinta-cinta parsial, seperti atas nama laki-laki, perempuan, partai, NU, Muhammadiyah, ICMI, LSM, lembaga kemahasiswaan, institusi-institusi lainnya, bahkan sangat mungkin dan sangat mungkin bukan atas nama agama. Termasuk cinta kasih pada orang-orang yang melakukan kejahatan, tentunya dipahami dalam konteks keMahaSutradaraan Tuhan atas kelangsungan kehidupan di atas bumi yang tentu saja tidak terlepas dari treatmenNya.
Sebagaimana dahulu, kita harus berterima kasih kepada Belanda yang berbaik hati menjajah Indonesia lantas muncul keinginan bersama untuk melawan, terlepas dari sejarah yang melingkupinya, maka jadilah republik bernama Indonesia ini. Tentu terima kasih yang sama akan dialamatkan kepada mereka yang menurut kacamata manusia sedang menabur kejahatan di republik ini. Jika suatu saat kelak, kehidupan yang dianjurkan Tuhan telah lebih baik dalam tugas dan tanggung jawab kekhalifaan diri. Dari persfektif yang berbeda, tentu mereka punya andil dalam mendorong orang lain untuk menciptakan sebuah bumi yang didalamnya kita bisa berbagi kasih sayang. Entah mereka sadari atau tidak.
Semoga saja tulisan ini tak jauh melenceng dari kode etik penulisan, sebab harus jujur diakui bahwa tulisan ini dimotivasi oleh rasa muak. Muak menyaksikan prilaku penyelenggara negara, yang masih dan terus saja melatih daya tahan rakyat dalam mempertahankan hidup. Padahal, kadar kesabaran apalagi yang harus diuji pada rakyat???
Andai tulisan ini dianggap melanggar kode etik, ah…. Masa bodoh…. Sebab hanya pada kebeningan nurani dan akal sehat, saya bersedia memakmumkan diri. Bukankah kode etik juga merupakan hasil dari konsensus bersama orang-orang yang berkompeten atau merasa berkompeten. Ia bukan kitab suci, jadi mengapa ragu untuk berbeda. Tinggal pilih mana, membatasi atau memasung diri dalam kemapanan-kemapanan yang telah mereka sepakati atau membatasi diri untuk peduli pada rakyat yang telah terbukti dari era ke era terus menjadi korban keganasan. Mereka telah ditelanjangi kolonial, lantas digerayangi orde lama, lalu diperkosa orde baru, kemudian datang orde reformasi yang katanya untuk menyelamatkan ternyata dengan moral bejat busuk berkarat mengobrak-abrik dan membonyok-bonyok yang tersisa. Berwisata lendir di atas darah, keringat dan tangis rakyat yang menggajinya.
Namun, tentu saja muak yang saya maksudkan hanya situasi mental yang timbul dari ketidakdewasaan saya sendiri mengelola dialektika-dialektika pikiran, hati dan perhatian.

Thanks semuanya..ucapan terima kasih kepada kawan kawan Front mahasiswa sosialis, Pembebasan, Forum pelajar sosialis dan Kawan sekaligus guru saya Muhaimin Faizal

0 Response to "Mari meninggalkan Indonesia"

Posting Komentar

wdcfawqafwef