Menuju revolusi Indonesia

Pada masa sebuah pemogokan atau revolusi orang merasa seperti manusia dengan harkat-martabat dan hak-hak asasinya. Setelah hampir seumur hidup dipaksa bungkam, mereka mendapati bahwa mereka memiliki suara. Wawacara-wawancara dengan orang-orang di jalan-jalan adalah ekspresi yang indah tentang hal ini. Kaum miskin, orang-orang buta huruf berkata: kami akan bertarung, kami tidak akan meninggalkan jalan-jalan; kami menuntut hak-hak kami dan kami menuntut agar kami diperlakukan dengan hormat. Ini benar-benar suatu hal yang progresif. Inilah esensi sejati dari sebuah revolusi yang sejati.

Sudah jelas bahwa kaum Marxis selalu meletakkan tuntutan-tuntutan demokratik di bawah revolusi sosialis. Tapi praktiknya tuntutan-tuntutan revolusioner yang paling konsisten dan paling maju secara niscaya akan bermuara pada tampilnya kekuasaan buruh dan revolusi sosialis. Revolusi Rusia adalah contoh terbaiknya. Pada 1917 kaum Bolshevik merebut kekuasaan berdasarkan semboyan “Perdamaian, roti, dan tanah”, yang sama sekali tidak memiliki isi sosialis. Dalam teori, semua tuntutan ini dapat dicapai di bawah kapitalisme. Tapi praktiknya tuntutan-tuntutan itu hanya dapat dicapai dengan pemutusan dengan burjuasi dan dengan kekuasaan yang beralih ke tangan klas-pekerja.!
Beberapa orang mengatakan bahwa ini tidak lain dari sebuah gerakan nasionalis burjuis, bukan revolusi yang sesungguhnya. Orang-orang ini hanya menyingkapkan ketidaktahuan mereka tentang pentingnya peran tuntutan-tuntutan demokratik dalam sebuah revolusi di bawah kondisi-kondisi ini. Pengalaman Revolusi Rusia sendiri memperlihatkan pentingnya pemanfaatan yang tepat (pemanfaatan yang revolusioner) dari tuntutan-tuntutan demokratik. Tuntutan untuk sebuah Majelis Konstituante memainkan suatu peran yang sangat penting dalam memobilisasi semua lapisan-lapisan populasi untuk berdiri belakang gerakan revolusioner.

Sementara berjuang demi tuntutan-tuntutan demokratik yang paling maju, kaum Marxis tidak memandang tuntutan-tuntutan ini sebagai tujuan pada dirinya sendiri, tetapi sebagai bagian dari perjuangan demi sebuah perubahan fundamental dalam masyarakat. Itulah yang membedakan cara-pandang Marxis dengan cara-pandang kaum demokrat burjuis-kecil yang vulgar.

Tugas jangka-pendek adalah melakukan propaganda dan penggulingan atas rezim SBY-Boediono. Tapi ini baru langkah pertama. Ini telah membuka bendungan-air dan memungkinkan rakyat revolusioner menerobos masuk. Dari hari ke hari mereka menemukan kekuatan mereka di jalan-jalan, pentingnya organisasi, dan mobilisasi massa. Itu sudah merupakan kemenangan yang menakjubkan. Setelah menjalani pengalaman tiga puluh tahun kediktatoran, mereka tidak akan mengizinkan imposisi kediktatoran baru, atau intrik apapun untuk menciptakan kembali rezim yang lama dengan nama yang baru. Tunisia, mesir adalah bukti yang memadai tentang hal ini.

Sekarang mereka telah mencicipi kekuatan mereka sendiri; massa-rakyat tidak akan puas dengan langkah-langkah yang tanggung. Mereka tahu bahwa yang telah mereka capai dimenangkan dengan tangan mereka sendiri. Perjuangan untuk demokrasi yang menyeluruh akan memungkinkan pembangunan serikat-serikat buruh dan partai-partai revolusioner yang sejati. Tapi ini juga akan mengedepankan pertanyaan tentang demokrasi ekonomik dan perjuangan melawan ketidaksetaraan.
Slogan-slogan dan taktik-taktik harus konkret. Mereka harus mencerminkan situasi yang riil dan keprihatinan-keprihatinan sejati massa-rakyat. Tugas-tugas obyektif dari Revolusi Rusia bersifat demokratik dan nasional: penggulingan tsar, demokrasi formal, kemerdekaan dari imperialisme, kebebasan pers, dsb. Kita menuntut demokrasi yang menyeluruh, penghapusan segera semua undang-undang yang reaksioner, dan pembentukan sebuah majelis konstituante.

Ya, kita harus menggulingkan rezim , bukan hanya SBY-Boediono, tapi semua "Calon calon agen kapitalis"”. Harus terjadi pembersihan yang menyeluruh terhadap Negara. Dan tidak boleh ada satu sosok pun di dalam pemerintahan yang pernah memainkan peran dalam rezim yang lama. Mengapa rakyat yang revolusioner, yang telah berkorban segalanya dalam perjuangan, harus mengizinkan semua orang yang tidak berperan apa-apa dalam revolusi untuk duduk dalam kekuasaan, sekalipun dalam bentuk sebuah pemeritnahan sementara? Ambil sebuah sapu yang besar, dan sapu mereka semua! Itulah tuntutan pertama kita. Kita tidak bersedia menerima yang kurang dari hal ini.

Tapi ini pun tidak cukup. Selama beberapa dekade orang-orang itu telah merampok dan menjarah kekayaan Rakyat. Mereka hidup dalam kemewahan sementara rakyat semakin dimiskinkan. Sekararang kita harus mengambil kembali setiap sen yang telah mereka curi dari rakyat. Kita menuntut penyitaan segera atas kekayaan dan properti parasit-parasit ini, juga penyitaan properti kaum imperialis yang mendukung mereka.

Ini memperlihatkan bahwa tuntutan-tuntutan demokratik yang revolusioner harus secara langsung bermuara pada tuntutan-tuntutan sosialis. Siapapaun yang tidak sanggup mendayagunakan dengan tepat tuntutan-tuntutan demokratik dalam suatu cara yang revolusioner akan selama-lamanya terhukum sebagai pelaku peran sektarian yang impoten. Orang itu tidak akan pernah bisa menghubungkan diri dengan gerakan massa-rakyat sejati.

Namun, demokrasi mempunyai makna yang berbeda-beda bagi orang-orang yang berbeda. Kaum miskin tidak berjuang demi demokrasi demi menyediakan posisi-posisi kementerian bagi pengejar karir, tetapi sebagai sarana memecahkan persoalan-persoalan mereka yang paling mendesak: langkanya pekerjaan dan perumahan, biaya hidup yang tinggi. Persoalan-persoalan ekonomi dan sosial ini terlalu dalam untuk dipecahkan oleh pemerintahan burjuis manapun.

Demokrasi akan menjadi sebuah frase yang kosong bila menolak menyentuh kekayaan kotor para elit-penguasa. Sitalah properti klik-penguasa! Sitalah kaum imperialis yang menopang rezim yang lama dan mengeksploitasi rakyat! Pertarungan demi demokrasi, bila diteruskan sampai akhir, tak pelak lagi harus bermuara pada penyitaan para bankir dan kapitalis serta didirikannya sebuah pemerintahan buruh dan tani. Di bawah rezim Agen kaum kapitalis telah bermurah-hati kepada bisnis-bisnis asing dan membantu imperialisme dalam menjarah kekayaan negeri dan mengeksploitasi kaum buruh . Kita harus menuntut penyitaan properti kaum imperialis untuk kesejahteraan rakyat.

Yang harus dilakukan :

penghapusan segera semua undang-undang reaksioner!
kebebasan yang menyeluruh untuk berserikat dan hak berorganisasi dan melancarkan pemogokan!
suatu majelis konstituante yang revolusioner!
penyitaan semua uang yang dicuri oleh rezim yang lama!
penyitaan properti kaum imperialis
Nasionalisasi Aset pertambangan dibawah kontrol rakyat
Industrialisasi,

Wujudkan revolusi di indonesia...salam memberontak

0 Response to "Menuju revolusi Indonesia"

Posting Komentar

wdcfawqafwef