Konflik agraria Tak berujung, Petani Terkatung


Dewan rakyat berdikusi dengan Petani Bulorembu

Bulorembu, Kasus perampasan Lahan sejak 1992 di desa babana Khusunya di Bulorembu belum menemui kejelasan penyelesaiannya, sementara petani yang menjadi korban tak mendapatkan kepastian kepemilikan lahan sampai saat ini.

Pada Tanggal 13 Maret 2005 FOMMTAB (Forum musyawarah masyarakat Tani dan Masyarakat adat Budong-budong) berusaha melakukan pengaduan perampasan lahan dalam bentuk identifikasi Kronologi kasus Rombia simombang yaitu kasus pengusiran yang dilakukan oleh APARAT (DANRAMIL BUDONG-BUDONG) terhadap kelompok petani di wilayah rombia simombang pada tahun 2002 silam, dimana kasus tersebut diajukan bersama kasus agraria Bulorembu pada bulan maret 2005.

Dalam pembahasan kedua kasus tersebut (kasus bulorembu dan kasus rombiah simombang) disepakati akan diselesaikan satu persatu secara bertahap dengan mendahulukan kasus Bulorembu, namun sampai saat ini 2013 belum jelas status penyelesaiannya hendaknya tidak ada satu pihakpun yang dapat melakukan aktifitas / penguasaan terhadap lahan konflik tersebut, Ironisnya sejak bulan juli 2012 lokasi rombiah simombang telah dikelolah oleh H.ARIS dengan maksud menguasainya. Sebut H. Naim Anggota Dewan Penasehat FoMMTAB.

Kami dan masyarakat sudah beberapa kali melayangkan surat kepada pihak pemerintah untuk memediasi lahan Konflik terakhir kami surati tanggal 17 september 2012, Namun sama sekali tidak ada respon dari pemerintah. Tambah H. Naim
Berdasarkan  identifikasi Konflik  untuk kedua kasus tersebut yang telah terjadi sejak tahun 1992 yang berLokasi  di  bulorembu, desa babana kec. Budong-budong, yang dihuni oleh Kepala Keluarga sebanyak 425 KK dengan luas Areal  1.000 Ha. Jenis Konflik secara Vertikal antara Petani Vs PT astra + Petugas, Jenis intimidasi yang didapatkan oleh Korban diantaranya ; Pengusiran, pengrusakan Rumah bahkan sampai penembakan.

Foto ; H. Naim (Kanan) memperliatkan dokumen dan Akta tanah
petani yang telah diserobot oleh perusahaan 

Foto ; Alat Bukti peluru yang ditembakkan oleh aparat untuk
mengintimidasi Petani
Kami akan terus Melanjutkan perjuangan untuk merebut lahan yang telah diserobot, sebab kami merasa bahwa Tanah/lahan tersebut adalah milik Kami, jauh sebelum PT astra Masuk ke Mamuju, lahan  tersebut sudah dimanfaatkan oleh petani untuk bercocok tanam. Secara defacto lokasi tersebut  adalah wilayah keadatan To Budong-budong wajar saja kami terus berjuang. Tutup  aco muliadi sekretaris Fommtab..(Her)

1 Response to "Konflik agraria Tak berujung, Petani Terkatung"

  1. wowww....
    pemerintah memang tdk becus mengurusi persoalan rakyat

    BalasHapus

wdcfawqafwef