Undangan Terbuka Untuk Umum
Ayo dukung dan sukseskan Kongres Dewan Rakyat I
yang akan dilaksanakan Pada :
Tanggal : 17-18 november 2012
Tempat : Budong-budong mamuju
Waktu : Jam 7 s/d Selesai
Harapan apalagi yang tersisa pada daerah ini, pada republik ini. Para elite monopoli interpretasi dan memilih haluan pragmatisme dalam politik, ekonomi, sistem pendidikan. Menyesatkan diri dalam formalisme berlogika, berbudaya bahkan beragama. Para elite merasa benar sendiri, sibuk mengurus diri sendiri. Sehingga rakyat yang seharusnya menjadi tuan justru dibiarkan hidup menjadi yatim piatu.
Ayo dukung dan sukseskan Kongres Dewan Rakyat I
yang akan dilaksanakan Pada :
Tanggal : 17-18 november 2012
Tempat : Budong-budong mamuju
Waktu : Jam 7 s/d Selesai
Menuju KONGRES RAKYAT I
PROLOG
Harapan apalagi yang tersisa pada daerah ini, pada republik ini. Para elite monopoli interpretasi dan memilih haluan pragmatisme dalam politik, ekonomi, sistem pendidikan. Menyesatkan diri dalam formalisme berlogika, berbudaya bahkan beragama. Para elite merasa benar sendiri, sibuk mengurus diri sendiri. Sehingga rakyat yang seharusnya menjadi tuan justru dibiarkan hidup menjadi yatim piatu.
Retas ketergantungan pada para elite. Pada presiden, menteri, gubernur, bupati, kepala dinas, camat, anggota dpr-dprd, lsm, mahasiswa, hakim, jaksa, pengacara, ustadz, kepada siapapun yang sering menjadi "tukang ajar rakyat" padahal sebenarnya sedang berdagang dan memperdagangkan rakyat.
Pesimiskah ini ??? sudah kelebihan alasan bagi kita untuk pesimis. Namun, persoalan mendasar dari yang dasar tidak terletak pada pesimis atau optimis. Melainkan bagaimana kita bersikap pada pesimisme atau optimisme itu sendiri. Adakah pesimisme itu menjadi motif yang cukup kuat bagi kita untuk melakukan evaluasi-korektif pada apa yang telah dilakukan sebagai referensi untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Menjadi pemicu kebangkitan kesadaran mengorganisir diri berdasarkan kepentingan atas apa yang penting untuk hak-hak hidup kita sebagai rakyat, ya... sebagai Tuan.
Kita harus bicara tentang petani yang tidak memiliki tanah sebab penguasaanya telah dimonopoli oleh pejabat, perusahaan, kaum feodalis atau pejabat pengusaha sekaligus feodalis, hanya dengan bermodal kecakapan administrasi. Kita harus bicara tentang petani laut dan darat yang hak-haknya diinvasi oleh petani komputer yang duduk manis di belakang meja kantor. Kita harus bicara tentang pupuk bersubsidi yang justru masuk ke gudang perusahaan-perusahaan besar. Kita harus bicara tentang pemberantasan buta huruf yang salah sasaran, sebab yang buta huruf justru mereka yang hendak memberantas. Kita harus bicara tentang pegawai bergolongan rendah harus sibuk mencari pertanggungjawaban atas anggaran yang digarong atasan dari laci dan rekening bendahara. Kita harus bicara tentang kepala dinas yang suka makan kertas, pukat, pupuk aspal, tanah, jalan, semen, batu, paku, kopiah haji bahkan tidak jarang makan masjid, gereja dan minum bensin.
Kita harus bicara tentang kesehatan yang menganut paham ekonomi neoklasik dimana manusia sakit dijadikan salah satu alat produksi. Kita harus bicara tentang kebudayaan yang diterlantarkan. Kita harus bicara tentang agama yang dibajak. Kita harus bicara tentang pendidikan yang dengan gegabah diidentikkan dengan sekolah. Kita harus bicara tentang kesenian yang tak pernah mendapat ruang. Kita harus bicara tentang hukum yang seharusnya buta warna tapi justru diwarnai seenak perut penguasa. Kita harus bicara tentang penguasa yang memposisikan kepala desa sebagai hamba atau kepala desa yang menggantungkan hidupnya tidak kepada Tuhan melainkan pada penguasa. Kita harus bicara tentang aparat yang tidak mampu membedakan mana stabilitas negara dan mana stabilitas penguasa. Kita harus bicara tentang kesesatan paradigma pembangunan. Kita harus bicarakan sendiri, tuntutan-tuntutan politik, ekonomi, budaya, sosial dan persoalan-persoalan kita di DEWAN RAKYAT.
Untuk kebutuhan itu DEWAN RAKYAT bermaksud menyelenggarakan KONGRES RAKYAT I di Tanah Mandar, Kecamatan Budong-Budong Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat bertema "MENGAGAS HALUAN POLITIK RAKYAT UNTUK MEREBUT HAK SEBAGAI TUAN DI REPUBLIK INI".
Politik bukan sekadar urusan peralihan kekuasaan, merebut dan mempertahankan. Politik seyoianya dipahami sebagai rangkaian usaha untuk menggerakkan massa rakyat, menggerakkan kekuatan-kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat secara dinamis melalui suatu organisasi dengan otoritas yang diakui bersama, ke arah yang telah digagas dan disepakati bersama.
Di Dewan Rakyat kita senantiasa melatih diri untuk menjaga kekhawatiran dan menghayati kepedihan hati atas situasi yang merefleksikan terjerambabnya penguasa dalam kubangan monopoli, egosentrisme bahkan egomania. Kita akan mengurai dan mengidentifikasi struktur urat saraf persoalan yang menderu dan mendera kita selama ini. Kemudian mendiskusikan metode penyikapan secara memadai dan proporsional. KONGRES RAKYAT I ini adalah konsolidasi Dewan Rakyat. Tempat mendiskusikan persoalan, metode penyelesaian, strategi taktis, menjadikannya titik awal kebangkitan kesadaran massa rakyat.
Massa rakyat akan memulai menapaki sejarahnya sendiri. Merintis jalan untuk menjodohkan momentum dan isu untuk memaksa dengan ketegasan yang lembut atau kelembutan yang tegas. Mereka harus dipaksa untuk ingat, harus dipaksa menjelaskan dan menghadirkan hakikat dirinya pada majikannya yang bernama rakyat. Harus disoal dan digugat kembali apakah rakyat masih memiliki hubungan yang rasional atau justru irrasional dengan institusi zaman bernama kabupaten, provinsi ataupun negara. Apa keterkaitan semua itu dengan nasib kita, atau hanya persentuhan-persentuhan bersifat simbolik dan birokratis yang sungguh-sungguh merepotkan. Harus dievaluasi kembali apakah dengan semua itu membuat hidup rakyat menjadi lebih mudah atau justru makin susah. Dimana akar masalahnya, harus dikaji dan dicarikan metode penyelesaian yang efektif. Kita tidak bisa lagi mempercayakan semua ini pada siapapun.
Bukan perkara hasil yang utama, melainkan pada proses kerja kita untuk berubah. Situasi transisi selalu seperti itu, namun seorang pekerja akan ditentukan oleh komitmennya, konsistensi dan daya tahannya.
Tak ada pilihan lain, rakyat harus menonggaki sejarahnya sendiri, harus bersatu menguatkan kepalan tangan dan mengkokohkan posisi kuda-kuda untuk berdiri sebagai dirinya sendiri diatas pijakan sejarah yang selama ini membaringkan kita lalu menyetubuhi bahkan lebih sering memperkosa kita. Sistem perpolitikan dan aturan hukum sangat memungkinkan mereka untuk menikmati orgasme dari hasil pemerkosaan kewenangan.
Semoga bukan hanya waktu yang menjawab, melainkan juga kesiapan kita menjawab bersama. Sebab waktu senantiasa tunduk pada orang-orang yang menantangnya.
TITIK KEBANGKITAN INI HARUS DIMULAI DARI MASSA RAKYAT
SALAM PEMBEBASAN NASIONAL

0 Response to "KONGRES DEWAN RAKYAT"
Posting Komentar