MAJENE — Dua hari pelaksanaan musyawarah kerja yang alot dalam Musker I DKM Sulbar Majene, 6-7 Januari akhirnya menghasilkan kepengurusan baru Dewan Kesenian Mandar Sulawesi Barat (DKM-SB) dan terbentuknya Dewan Kesenian Sulawesi Barat (DK-SB) Periode 2013-2018.
Bukan hanya kepengurusan baru, sifat organisasi DKM-SB juga berbeda dengan sebelumnya, khususnya dalam struktur kepemimpinan. DKM-SB kali ini memiliki Dewan Pakar yang diisi individu profesional yang kompeten dalam bidangnya, yaitu agama, pendidikan, hukum dan HAM, politik, sosioantropologi-sejarah, iptek, media dan komunikasi, kesehatan, kemaritiman, hankam, kesenian, dan ekonomi.
“Kebudayaan itu isinya bukan hanya kesenian, tapi banyak aspek. Nah, itu yang ingin dicakup dalam DKM kali ini. DKM semacam pemberi masukan atau mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang terjadi di provinsi ini,” ungkap Asmadi Alimuddin, budayawan yang saat ini bekerja sebagai birokrat di Mamuju Utara.
Pada musyawarah kerja di hari pertama, dihasilkan kesepakatan Pengurus Badan Pekerja DKM-SB, yaitu Ketua: Muhaimin Faisal, Sekretaris: Abdul Samad, Bendahara: Dimas Wahab, dan anggota: Rahmat Muchtar, Hardi Djamal, Ahmadi Abdullah, dan Muhammad Ridwan Alimuddin.
“Badan Pekerja DKM-SB perannya sebagai fasilitator yang menjembatani antar anggota Dewan Pakar,” ungkap Syariat Tadjuddin, salah seorang pendiri DKM.
Pada hari kedua lembaga baru dibentuk, yang sifatnya identik dengan DKM sebelumnya. Yakni organisasi yang khusus bergerak di bidang kesenian, yaitu Dewan Kesenian Sulawesi Barat. Dalam pemilihan yang berlangsung hangat, disepakati pengurus DK-SB ialah Ketua Umum: Muhammad Syariat Tadjuddin, Wakil Ketua I: Tammalele, Wakil Ketua 2: Yusak, Sekretaris Umum: Suparman Sopu, Wakil Sekretaris 1: Dalip Palipoi, Wakil Sekretaris 2: Ria Idroes, dan Bendahara: Ashari Rauf.
Bersama Badan Pekerja DKM-SB dan beberapa pihak yang ditunjuk, Pengurus DK-SB akan memilih anggota yang akan menangani komite-komite. Komite tersebut adalah Sastra, Tari, Musik, Seni Rupa, Teater, Multimedia – Fotografi, dan Litbang
“Kebudayaan itu isinya bukan hanya kesenian, tapi banyak aspek. Nah, itu yang ingin dicakup dalam DKM kali ini. DKM semacam pemberi masukan atau mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang terjadi di provinsi ini,” ungkap Asmadi Alimuddin, budayawan yang saat ini bekerja sebagai birokrat di Mamuju Utara.
Pada musyawarah kerja di hari pertama, dihasilkan kesepakatan Pengurus Badan Pekerja DKM-SB, yaitu Ketua: Muhaimin Faisal, Sekretaris: Abdul Samad, Bendahara: Dimas Wahab, dan anggota: Rahmat Muchtar, Hardi Djamal, Ahmadi Abdullah, dan Muhammad Ridwan Alimuddin.
“Badan Pekerja DKM-SB perannya sebagai fasilitator yang menjembatani antar anggota Dewan Pakar,” ungkap Syariat Tadjuddin, salah seorang pendiri DKM.
Pada hari kedua lembaga baru dibentuk, yang sifatnya identik dengan DKM sebelumnya. Yakni organisasi yang khusus bergerak di bidang kesenian, yaitu Dewan Kesenian Sulawesi Barat. Dalam pemilihan yang berlangsung hangat, disepakati pengurus DK-SB ialah Ketua Umum: Muhammad Syariat Tadjuddin, Wakil Ketua I: Tammalele, Wakil Ketua 2: Yusak, Sekretaris Umum: Suparman Sopu, Wakil Sekretaris 1: Dalip Palipoi, Wakil Sekretaris 2: Ria Idroes, dan Bendahara: Ashari Rauf.
Bersama Badan Pekerja DKM-SB dan beberapa pihak yang ditunjuk, Pengurus DK-SB akan memilih anggota yang akan menangani komite-komite. Komite tersebut adalah Sastra, Tari, Musik, Seni Rupa, Teater, Multimedia – Fotografi, dan Litbang
Dikutip dari Radar Sulbar

waaaaaaaaw
BalasHapusIyya
BalasHapussukses buat DKM-SB dan DKS-SB..semoga harapan menjadi kenyataan
BalasHapus