Erosi Patriotisme


Tentulah tanah air Indonesia bagi kita masyarakatnya menjadi wilayah yang kita cintai. Perasaan itu menjadi sesuatu yang wajar karena memang seharusnya demikian. Persoalannya adalah sulit untuk menghindarkan diri dari perbedaan dalam mengekspresikan kecintaan kita pada tanah air, tapi ini dapat dipahami sebab “berbeda tempat berdiri berbeda pula benda yang tampak”.

     Bertolak dari kesadaran di atas, maka eksistensi Pusat Komunikasi Gerakan Bela Negara (Puskom-GBN), Komunitas Intelijen Daerah (KOMINDA), atau apapun namanya yang tugasnya “memata-matai rakyat  sendiri” sekali lagi “memata-matai rakyat  sendiri”, pun seharusnya dapat dipahami. Hanya saja dipahami tidaklah identik dengan disetujui.
     Kominda yang keanggotaannya nyaris diisi dengan  penguasa serta orang-orang yang terjangkiti “virus demam kekuasaan”,  secara sembrono mempersamakan alias tidak mampu membedakan posisinya sebagai alat negara atau alat penguasa. Dari sinilah berhulu adanya perbedaan dalam mengekspresikan kecintaan kepada tanah air.
     Isi kepala mereka telah dicekoki dengan salah kaprah akan stabilitas, kewaspadaan nasional, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sejenisnya, selanjutnya tidak mampu mengurai struktur urat saraf persoalan yang menyelimuti bangsa. Sebagai akibat dari salah kaprah itu, maka cinta tanah air hanya diidentikkan dengan menjaga negara dari rongrongan yang lebih bersifat fisik. Sehingga, apabila muncul masalah antara pemerintah vis a vis rakyat, maka Kominda akan menunjukkan keberpihakannya pada penguasa. Akibat pandangan feodal tersebut maka kominda dalam memandang rakyat yang berbeda dengan penguasa sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa, alias mengancam stabilitas, karenanya perlu diwaspadai alias dimata-matai. Maka sibuklah mereka untuk menghabiskan tinta pena mereka untuk mencatat setiap gerakan-gerakan yang berlawanan dengan penguasa. Saya kira ekspresi cinta semacam ini -pemaknaan patriot(isme) dan nasional(isme)- adalah pemaknaan yang usang yang mungkin hanya relevan dengan pemaknaan ketika republik ini bermula.
    Kita telah berada dalam era globalisasi, dengan kata lain meninggalkan iklim primordial dan mengkaji nilai-nilai universal tentang yang baik ataupun yang buruk. Olehnya itu pikiran kita seharusnya tidak lagi dicekoki oleh warisan kolonialisme-imperialisme Britania Raya yang mengekspor sikap dan slogan Perdana Menteri Disraeli dari abad ke 19 yang memang relevan untuk zaman kolonial :“right or wrong my country”(benar atau salah negara kita selalu benar) melainkan “right or wrong is right or wrong” (benar atau salah ya benar atau salah). Artinya dalam era kekinian seharusnya lebih mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan. Karena Allah Subhanahu wa ta’Ala tidak menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk melebihkan kamu dari yang lain. Kediktatoran Hitler dan Mussolini pun atas nama kepentingan nasional.
     Bapak fisika modern, Albert Einstein, pernah berucap : Patriotisme adalah penyakit anak-anak”. Kepada yang tidak setuju dengan pemahaman itu, saya ucapkan berbagialah Anda bukan Einstein. Tapi bagi yang sepaham dengan itu jangan lantas lekas merasa Einstein. Sikap patriot perlu diuji juga dari segi motivasinya, demikian YB. Mangunwijaya menghayati patriotisme. Selaku pemuda YB. Mangunwijaya kadang ikut operasi gerilya memasang ranjau atau mencuri kawat telepon tentara Belanda. Hal itu dilakukan bersama/dikoordinir suatu barisan maling yang benar-benar berprofesi perampok. Apakah maling-maling itu masih bisa dianggap punya patriotisme atau memang dasarnya perampok. Tetapi tampaklah, bahwa secara spontan soal motivasi, dasar mengapa orang melakukan sesuatu, adalah penting, walaupun itu bukan satu-satunya indikator.
*****
       “Jika Anda berani mengurus 32 orang yang dirampas hak asasinya, maka bersiaplah untuk jadi yang ke 33”. Menjadi pembela (Human Right Defender-HRD) dalam negara yang  tertimbun kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia, memang merupakan pilihan yang mengharuskan kesiapan menanggung segala konsekuensinya.


Seorang mahasiswi Swiss pernah berkisah  :  bahwa semasa kanak-kanak, ia begitu bangga dan mencintai negaranya yang makmur. Namun setelah beranjak dewasa ia baru tahu bahwa tanah air yang pernah ia banggakan ternyata mempunyai sistem perbankan yang sangat kokoh dalam membentengi dan menjamin keamanan deposito kaum kapitalis, mafia, koruptor dari belahan dunia manapun. Ternyata tanah airnya hanya berporos pada penimbunan harta yang tidak terikat kaidah halal-haram. Analoginya mungkin seperti orang yang begitu mencintai ibunya sewaktu kecil, begitu sayang pada ibunya yang cantik, molek dan teramat perhatian kepadanya. Tapi setelah dewasa ia baru tahu bahwa ibunya adalah seorang pelacur yang menjijikkan. Karenanya jangan salahkan dia kalau kemudian dia patah hati dan tak bisa mencintai lagi.

Apa yang dikisahkan oleh mahasiswi itu mungkin bukan sesuatu yang terpuji, mungkin juga bukan sesuatu yang keliru, tapi yang pasti itu juga sebuah pilihan. Sekalipun tidak seekstrem mahasiswi itu yang jelas kisahnya menarik untuk dijadikan bahan mentah untuk dikelola guna mengasah intelektual yang kini semakin ditumpulkan oleh sebagian media dengan hal-hal yang tidak rasional. Selamat mengkaji….

0 Response to "Erosi Patriotisme"

Posting Komentar

wdcfawqafwef